Showing posts with label memitapita. Show all posts
Showing posts with label memitapita. Show all posts

Monday, 3 October 2011

*34




: satu menguntai dua

hembusan nafas malam
tersesap aliran sungai kerinduan,
tetes hulu menuai dewasa
bermekaran kuncup muara,
gelora hujan menetes perjalanan
tertikam sejarah kitab rumah bercat putih,
para penggembala menghalau ternak
menguntai panah negeri raja diraja,
pinanganmu tertetak pangeran
bercadar tonggak dermaga,
diperbatasan lautan
tambatan gelombang
memeluk makna

satu sinar matahari
dilintasan memeluk membumi ,
dua cahaya rembulan
merenda malam melangit,
perlahan ufuk timur menjelma l
aksana secercah lingkaran mentari,
menggenang jingga nan menjingga
tatahan mata dewa menikahi lautan,
satu menguntai dua
menggenapkan perjalanan
membirukan

selendang rintik hujan
bersilang tangan padang gersang,
sebait lingkaran waktu
menghantar ukiran perbatasan,
kerlipan belantara gemintang
bertaburan savana menghijau hamparan,
kulintang menggema tungku
melintasi kampung tua,
cadikmu menyetubuhi labirin
kehidupan berselimut
pijaran lantunan lilin lilin kecil,
telunjukmu berliontin secercah
khandil keabadian


> 01:02




.

*33




: separuh

mencumbu bayang dilintasan angkasa raya
menetak timur menguntai barat,
sebutir desah menggema langkah
menikahi relung terdalam,
guratan gelombang lautan
membius sendi sendi,
berugamu tersesap aliran jejakmu
satu delapan mencadik satu dua,
Lukisan pelangi menoreh gemericing
dua warna ujung sutera jemari,
merindang rerumputan dialtar
taman peraduan rembulan,
menatah bebatuan bercandi
rautan paras detak waktu


kedua makna melentik warna menghijau
menggema jingga jemarimu,
simponi dahan ranting berdaun
memetik dentingan harpa cinta,
gemulai ranting merangkai warna
mencadik pelangi senja,
ketika jubah mengembang tabuhan gamelan
lingkaran poselin wajahmu,
butiran mutiara menitis pertama
tertetak kedua riam rambutmu,
mencumbu waktu bertaut desiran
empat penjuru angin berjendela mata lautan


separuh rembulan merindukan
sinar matahari tertetak selat,
sekuntum desahmu membelah kelam
sukma membasuh dinihari,
perlahan awan menggelombang dilangitmu
menggapai waktu,
sentuhan detak membius semenanjung
didinding memutih terpaku,
setiap detak hangat nafasmu
butiran mutiara tiada batas





:01



.