Showing posts with label aroma bambu. Show all posts
Showing posts with label aroma bambu. Show all posts

Thursday, 1 November 2012



 
(1) ketika satu jemarimu bersatu parasku
 ketika satu jemarimu bersatu parasku
melingkari ruatan langit membumi,

(2) ketika satu jemarimu bersatu parasku
lengkungan pelangi mengukir kilatan
menyentuh benderang warna
sudut tungku memerah tertikam
membiru lautan semalam,
menguntai arah memuja relung alam semesta

bertatah jendela mata,

(3) ketika satu jemarimu bersatu parasku
melingkari ruatan langit membumi,
mencadikmu kerinduan tarian hujan
bersatu jiwa warna,
serpihan tetes hujanmu
membuncah tersesap kemuliaan
keheningan purba

merenda
lautanmu
05/11/11




**

Monday, 19 March 2012


:

ketika puisi ufuk timur dipelukan hujan berpelangi warna cinta
ketika puisi ufuk barat merenda makna jingga menuai senja


.
:

ketika cadikmu kian membahana perbatasan kosa tanpa kata
ketika tersemat warna melukis jemari bertahta parasmu

ketika jiwa melukis satria makna memeluk jejak sang pelangi
ketika langit melukis magenta memeluk liat pinggang rembulan
ketika sentuhan kuasmu membahana makna kanvas membumi,
ketika kekuatan antahberantah melintasi perjalanan menyelaras

ketika kutipan gemintang menggema satu tetesan mengalir lautan
ketika langit melukis magenta memeluk liat pinggang membumi
ketika mendesah ombak perlahan tenggelam mencumbu dermaga
ketika bersimponi aroma bambu berhembus paras menuai langit
ketika perlahan lantunan dahaga mengecup kuncup membumi,

ketika serpihan sutera lautan pilihanmu menggema puncak
ketika mencumbu arah empat penjuru angin penuh keabadian



.

Saturday, 3 December 2011

:dua hempasan larmu


lentingan langkah
bertatah benderang
sinar matahari
menebar sayap cakrawala,

lukisan purba
menggaris keheningan
tertetak kelambu semalam,

saat matahari
melempar serpihan
rembulan bertahta
sepanjang kerlipan
gemintang,

ufuk barat
bermuara rona jingga
memeluk lingkaran
pergelangan malam,

satu disatukan
dua hempasan larmu
menggapai kekuatan
keabadian






.

Wednesday, 2 November 2011

*73

:langit melukis magenta
memeluk liat pinggang membumi,


desah ombak perlahan tenggelam
mencumbu dermaga bersimponi aroma bambu,
menghembuskan nafas diwajah langit
perlahan mengecup kuncup membumi,
serpihan sutera kanan lautan menggema
puncak pohon pinus
mencumbu arah empat penjuru angin,
sementara lidah api menjilati sumbu khandilmu
penuh keabadian kian menggema

cakrawala menatah pelangi berhelai kedua
ujung sutera melingkari detak nafas membumi,
langit melukis magenta memeluk liat pinggang
sentuhan kuasmu membahana kanvas membumi,
serpihan desah nafas mencumbu jantung
tersesap kekuatan sentuhan puncak makna,
musim kupu kupu melintasi
perjalanan langit membumi
menyelaras kutipan gemintang



magenta
02:11



.

Thursday, 20 October 2011

*64

:seketika menggema memuja
aroma bambu sekujur tubuhmu



benderang lintasan cahaya matahari
melemparkan bayang-bayang malam,
deburan ombak bertatah dermaga melukis fajar
dipelukan tarian lautan membiru,
detingan desah mencadikmu menggema rianamu
perbatasan antahberantah warna warni,
serpihan api menggelora tungku
melintasi lima tatahan hari
membasahi perut membumi,
kerlipan mercusuar melempar arah
menikam malam mencumbu palung rembulan,
bentangan belantara menuai kelokan perbukitan
melintasi selat memuja pulau,
legkungan bibir ufuk timur
mengguman desah matahari menuai ufuk barat

angin lautan membalut kekuatan,
bentangan layarmu menuai detak angin darat,
hamparan pasir putih menitik garis memutihkan,
penghujung semenanjung titian sinar matahari,
seribu cerita mencandi
menatah tangga lembaran kitab usang ,
menetak akar melukis batang,
serpihan padang rumput bertahta
titisan kabut pertarungan satu singgasana

dentingan ketukan seribu jendela bertatah daun sirih
berbatas sepasang danau mata menikahi tangga dini hari ,
warna-warna menggaris keteduhan bertirai benderang hari,
lukisan beranda bertiang tatahan usang
dipelukan mayang membatik purba,
sebutir perjalanan matahari titisan rembulan
bergegas menenun lintasan langit membumi,
penghujung senja lukisan antahberantah
menuai dua nafas menderu satu


memujamu penuh kekuatan deburan ombak lautanmu,
cakrawala berpelangi perbatasan Langit membumi,
Lintasan cahaya dihamparan gelombangmu semalam,
seketika menggema memuja
aroma bambu sekujur tubuhmu



:18


.

Friday, 7 October 2011

*45




: satinmu berjubah payung
sutera jemarimu menguntai
desah aroma bambu membahana



mengejar bayanganmu ribuan depa
kehidupan sebutir purba
katamu semalam,
padang ilalang dicawanmu
tercecap palung telanjang,
rianamu berwarna coklat berpita putih
kekuatan aliran cinta ,
bergetar ranting mengalir sungai kasih
mencumbu kuala waktu,
singgasana pertikaian berjajar
topeng tauhid membui
dinihari berjantung mimpi

desiran angin selatan berparas
lukisan gelombang lautan,
altar panjang bergema relung jiwa
berselimut deburan ombak,
lentera matamu meredup
merenda aksara demi aksara,
tatahan kecupan Langit
merangkai dahaga detak nadi,
jemari tanganmu rosario
menguntai tiga detak
tertawan satu hujan,
para bumimu bersulang
memahat istana bertinta kasih

hamparan hujan tatahan jiwa
melukis penat meniti perjalanan,
terbenam petang menepi dermaga
setengah cahaya rembulan,
merenda seribu pintu memukau mata
seribu jendela,
perjanjian kudus membumi semalam
terbias cahaya dekapan keabadian,
berkumandang desahmu
simponi kerinduan mantra

menembangmu lantunan rumpun bambu
disatu alam,
semerbak kembang usang
merentas padang memutih pualam,
membulir sukma persimpangan
kelokan lembah,
lautan merangkai badai
terpahat angin barat
berkumandang meramal hujan,
kelam tertetak benderang
memujamu diluar lingkaran



:08



.