Showing posts with label ekstensialisme. Show all posts
Showing posts with label ekstensialisme. Show all posts

Monday, 11 October 2010

a r c h *




: nadi merenda kasih

saat asa menyatu lengkungan pantaimu
hamparan semenanjungku menikam tajam
langit melempar pelangi mencumbu bumi
berjuta warna cinta menghiasi kanvas
hujan mengganti jubah membias cahaya
detak nadi merenda kasih dialtarmu


altarmu:batavia
10:10:10: 11:22:09


.

Tuesday, 5 October 2010

adoramus te



: aku memujamu tiada batas

membayang sosokmu hamparan lautan menjingga
mengalir sejuk cawan kehidupan membahana angin lautan
lengkungan parasmu menguntai rajutan cinta
kian bermekaran beraroma mewangi

langkahmu menyatu mantra mendetak nadiku
melukis harum kamboja putih ditelingamu
cakrawala memeluk langit pura uluwatu
ternaungi jiwa para dewa dewi
berkecipak air ditelaga bantenmu penuh khidmat

menoreh pijaran jingga direlungku
gemericik lantunan ombak berdebur berkejaran
angkasa membiru berbaris menetak tangga
dikepalamu menyongsong persembahan para pura
kepakan camar riuh membelah badai
berpelukan pemujaan pasir putihmu


uluwatu:
2003

.

vestri optimus sostenible




hamparan hutan pertapaan menyatu kintamani
puncak merenda jiwa kian menyepi
semilir lantunan simponi bermakna kesejukan
temaram ujung langit mencium malam
menuai jiwa bernuansa pelangi dipersatuka
selat membelah jarak menetak rasa
sementara cadikmu menyatu mata dewa
menderu makna bersemi kembali tergenggam
kenangan merajut wangi membahana jantungku
kerinduan ini semakin memburu biru


Gaia oasis resort,
tejakula, singaraja
- Bali Island:
05:10:10
05:38:22



.

cornu horizonte



menyatu dalam makna membahana asap meraih angkasa
menyentuhmu dasar samudera para bara api berkobar
: karena cakrawala memelukmu penuh kekuatan

bertahun mencumbu langit bertaburan bintang
rembulan penuh penantian membumi,
sudut beranda mengitari gemerlap kian menderu,
hujan diperbatasan cinta kasih
mengalir lengkungan bening danau matamu kian membulir
: karena beranda penantian menjadi saksi

menyuntingmu di pelukan cakrawala
bersama kepakan demi kepakan sayap sayap cinta
terbelenggu antah berantah,
menatap jejak purba membahana sudut selat
menghadang detak jantung bersembilu
: karena menguntai detik perjalanan purba

mengalir pengkhotbah di kitab bermakna
menikmati kehangata sinar mentari melukis suara alam,
berjuta kehidupan berterbangan menyatu suara desau angin
ranting bergelombang menyentuh dedaunan penuh keindahan
suara binatang hutan memanggil jiwa dipuncak bukit,
: karena keindahan menyatu alam semesta


gilimanuk:
04:10:10
09:20:07


.

Monday, 4 October 2010

naturalis mater docuit




langit penuh keabadian mencintai bumi
menatah tangga cinta lengkungan pelangi,
malam mencintai siang merenda tangga matahari,
menyulam bintang berpelukan sinar rembulan

langit menoreh tinta kian membumi
: karena ibunda alam mengajari aku


melbourne
11:11:2008
20:31


.

menyirami bara api



sejarah usang tentang untaian asahan mata pedang
memuja setiap bagian menjadi lebih tajam,
gemericing percikan api menjadi lekat satu
membulir keningmu adalah batu asahan purba
seperti menjadi air tiada terhenti menyirami bara api
menyentuh anak tangga kasih lukisan antahberantah
berusaha meredam berbalut mematikan bara api-mu,
sesaat terkipas menjadi letupan penuh kobaran

menggetar lantunan pucuk pucuk mahoni
meresapi makna diterpa kehormatan tertinggi
lukisan menancap telapak tangan menangkup erat
terdalam telah menyatu denganmu


boemi:
sept 25`10
20:37


.

keyakinan kitab cinta kasih



hutan bersenandung binatang malam menjelang senja
sosokmu bagian makna demi makna tersulam
menyatu hamparan cakrawala kian bermandi pelangi
membuka kitab tertuang di mata mencumbu jiwa jiwa
pengkhotbah berkumandang diatas para mimbar
cadikmu bergetar ayat demi ayat mengajari diri
membungkuk dalam bait keyakinan kitab cinta kasih


boemi:
sept 27`10
17:18


.

Sunday, 3 October 2010

setetes menetak dahaga




hari demi hari menulis pertapaan
mencintaimu tiada pernah berakhir
berikan gelombangmu tiada terhenti
lemparkan pemujaan siang mencumbu malam
semilir desah anginku menyetubuhimu
diatas deru mengguncang birahiku
kesepian semakin tumbuh diladang tandus
simponi bernada sendu kian membeku
menoreh pedang di sayatan sekelilingmu
perih kubawa berlari membunuh diri
langit menumpahkan hujan tiada terhenti
mengalun putran waktu dalam gemericik
hari demi hari terlentang riakan
menggugah nafas pertapaan kian meronta
berputar ditumpukan seribu pintu
berpadu dihamparan seribu jendela
menimang matahari bercahaya benderang
kembali sang bayu menyulam alam
setetes air darimu menetak dahaga
cinta berkepanjangan


hujan bulan oktober
02:10:2010:diberandaboemi


.

Wednesday, 29 September 2010

Pestaku kini




Blaammm.... lampu dinyalakan
Semua menjadi gemuruh
Menyatu dilarutan warna
Merajut langkah bait menjejak

Semilir menjamu sekujur tubuh
Membeku menetak waktu sembilu
Seperti kemarin menuai kuntum
Arti kian membahana

Berdentang dihembusan senyumanmu
Ujung jemarimu menunjuk aku
Matamu memangsa nafas mengerling
Menepis putaran waktu meredup
Semua berputar satu

Saat lampu menikam remang
Mata memeluk satu kian menyeru
Melepas semua kata dirongga
Bait mematah ranting gemulai
Antara relung tebing terjal
Mengalir tetesan air kesejukan
Satu menjejak dahaga

Saat gelombang mengembara
Langit menyulam awan kian berarak
Dicawanmu tercecap anggur memabukkan
Pestaku kini menggema cakrawala
Di tengah lingkaran tercipta

Benderang Lampu menguntai kembali
Menghentak dini hari


telukbetung
22:05:1995

.

hujan menguntai bait




Dentuman baja merasuk kabut
Merendam sukma merana
Jeritan angin tiada terasa
Tetesan hujan menerjang bumi
Menatah tebing menyatu piton
Kata menguntai bait tangisan
Merembak sukma merana
Jeritan bermuara menitis satu


Herly:119
19:11:1995


.

memaku daun di ranting rapuh



: bayang bayang

tiada jejak tertikam berdiri
hembusan angin mengeringkan waktu
semua tetap berdiri disini
menginjak telapak kaki sendiri
menghapus jejak keangkuhanmu
memaku daun di ranting rapuh

mencari wahai sang juru penyelamat
bertanya dibalik awan dan surga
hilang di balik dedaunan memutih
sekali lagi cakrawala mencatat
kehilangan keberadaan ku

cimanggis,
21:11:2000


.

mencumbu ilusi



Kehidupan menikam bayangan
Menyelami sebutir pencarian purba
Mencumbu ilusi berkepanjangan
Menetak pandang mengintai waktu

Gunung menatap singgasana berdiri diri
Berjajar kemunafikan bertopeng tauhid
Kebencian menggenggam kekejian tiada akhir
Berteriak dalam bisumu terbui
Menetak pandang mengintai waktu

Ibunda Alam menangisi kehancuran
Terlukis kanvas kian beraroma kelam
Mulut membedakan hati dimuara maki
Membusuk diladang kering kehidupan
Mati membiarkan bayangan keterasingan
Menetak pandang mengintai waktu


jatijajar,
19:11:2005

.

Ibarat logam mulia




Nyata membahana cakrawala
Ibarat logam mulia
Lantunan waktu menghimpit jejak
Sebutir pecarian kuasa Tuhan
Menyelami peradaban makna

Nafas mengguncang paripurna
Dongeng usang kian mengumandang
Bait sakral terhantar gelombang
Tiang pancang milik kita
Diantara peradaban purba


Tanjungpinang, 2001


.

Kation dan koloid




Jerapan jerapan kation
Melengkapi koloid tanah
Elektrostatistik membunuh logika
Angka itu kini bicara

Jerapan jerapan kation
Menghilang dikelokan jalan berlubang
Menabur bintang jasa dipundakmu
Kerta kosong tertulis tinta sendu
Adsorbsi diatas nilai pengukuran
Menetak takdir antah berantah
Kemarin geologi tersisa purba
Pagi ini mataku masih tertutup

Jerapan jerapan kation
Kebenaran diatas bumi nyata
terpanggang sang surya
bebatuan untaian fosil kekuasaan
keragaman tanah membuai elegi pagi
fatamorgana bersimbah kitab purba

soil:
01021995

.

Elegi ebony




Matahari tertatih melempar cahaya
Perlahan hangat menyetubuhi tubuh telanjang
Langit membakar hutan bagian diri
Dipenghujung bumi tetap membisu

Cahaya terus mengitari ruang waktu
Sorot matamu kian menggetir sukma
Dipenghujung bumi tetap membisu

Terlempar batang bambu di lantunan awan
Rembulan bersujud menangisi bintang
Bumi tetap membisu

Rautan semesta meminta
Langit melempar bisikan
Bumi tetap membisu


Palapa,
08:02:1999


.

a c t i u m




harimau yang terlupakan
pertempuran tertetak zaman purba merana
para bala tentara tiada patuh perintah sang

tapi, sebelum kemenangan menggema
masih berbekal khayal belaka
pertempuran telah melintas sang


kalian para bayi mencium jejak merangkak
suatu maha karya berangka diatas tercintai
menyulut kobaran antah berantah kuasa
haluan tatapan dikemuning senja

menyulam batas untuk melupakan sang
lingkaran kian tersingkir bayangan sang
kebenaran sejarah para nenek moyang kini bicara
penghujung pertempuran tetap berkobar kekuatan
menitis perkasa membalut jiwa laksana
kasih mengaliri rongga nafas
menyatu sang

mata penuh tatapan saga
membusung puncak bermakna kemenangan
belahan jiwa sang menatah gemilang

boemilada
desember, 1995


.

Tuesday, 28 September 2010

z e s t



Aku yang perkasa
Ingin jadi raja

Semua tunduk kepada ku
Bersimpuh atas ku titah
sesungguh ku tahu sebatas kias
Sendiri ku tiada kuasa berdiri

Ku mau membelah langit
Sesungguh asa membentang makna
Merapal angkasa bermahkota
Untuk menjadi raja

Memohon tertetak kata terucap
Kokoh ku berbalut rapuh ku
Hujan menggetar mendung terlempar
Menitah ditelunjuk melengkung ku
Membunuh berjuta asa raja
Berlama menggapai singgasana

Petuah menegur detak jantung ku
Tertetak mencerna di telinga malam
Menutup mendung di tatap mata hati
Jejak kian berlalu beku

Perlahan mentari diufuk timur merekah
Hamparan jingga meninggalkan siang
Ujung hari tertuang dicawan kelam malam
Berikrar ku menatah perkasa

Dari seribu aku
Gedongmeneng,
06:06:1993


.

Monday, 16 August 2010

mengendap noktah pahatan



riak danau mata menyatu kegelapan
seberkas sinar menggapai bintang

seutas lilin melepuh gulita, redup,
lemah hampir-hampir tiada daya,
mengendap pahatan pintu rumah
mata membuta meraba,

terhampar ujung-ujung dunia,
fana membuncah baka
menyeru padam dan mati,
lembaran noktah demi noktah
pengebaraan kembali usang

noktah
2004


.

Tuesday, 13 April 2010

emiletesaurus




aku membencimu ..
mengapa engkau menuliskan ini semua
seperti sebuah penelanjangan yang sempurna..

aku membencimu ..
karena aku telah menjadi banci yang memerah..
seperti permainan warna yang sempurna

aku membencimu
karena saat ini baru engkau rangkai kata kata ini
seperti saat aku menyembelih kelaminku sendri
dengan pisau mengkilat tertajam yang sempurna..

Merah "banci"..Putih "benci"
for: friend: 2009


.

Friday, 2 April 2010

daun lada mengulam biji mengembang




jejak menjejak tanah lada menyapa
bertahun garis nasib menyatu sucimu
saat takdir membentang hitungan
membayang lintasan kebun lada berbatu
membuang mimpi dalam sepatu berdasi
daun lada mengulam biji mengembang

tangga tua para yayik tembaga matahari
membakar kenangan mengilas lada
membingkai senyummu di aliran raut wajah
melukis sidah dalam bingkai kaca perjalanan
kokoh ruangan bercagak sulaman tanganmu
perlahan menjelma ombak dipenetew
perahu-perahu berkarung lada hitam menjemur

pelangi itu menghantar mimpiku kembali
memelukmu disulaman piring nyeruitmu
melingkar detak membakar panas tanakanmu
di atas pohon kibuk mengis air dangau

tapismu mengkilat bernuansa emas mengepak
dalam pelukanmu aku berlari cepat

bunglay
Ladow Farm:
1997

.