Showing posts with label menjejak kambium. Show all posts
Showing posts with label menjejak kambium. Show all posts

Thursday, 25 August 2011

tatahan kursi

lautan keperakan diterpa cahaya pagi,
sepi melangkah tanpa batas mencari tepi, ,
gerakan awan gemulai menyentuh buih gelombang,
buritan kapal lawit menebar kelopak membuih,

bertburan kursi memeluk sudut pesiar,
perlahan kursi membeku dalam sepi,
dicawan tersesap aroma kian menggema,
mentari melempar malam menembus makna pagi ,
membangkitkan seribu lintasan cakrawala,
tatahan kursi penuh asa menanti

: diatas kapal lawit
19/08/96 08.30
dicafe terbuka



.

Tuesday, 30 November 2010

menenun tumpukan kayumu




memintalmu tembakau menyuluti pintu,
Ladamu membubuk berdiri dikebun tua,

hikayat mengukir nuansa mati dalam puisi
berhias tumpukan kayu setia menikam api,
menenun abu Lintasan purba sekuat mimpi,

Langit menyatu takdir,
angin menyulam matahari,
bumi menggenggam Lembut Langit sesaat,
saat punggungmu hilang diterpa pelangi
asmara cinta menyeret topan terpana,
cawanmu terisi segar bunga bunga,
membius angan bersama putaran bumi,
menetas langkah kata hati,

perlahan hari meninggalkan hari
tenggelam siang menumbuk malam terbentang,
pusara penari ditetak sembilu pagi,
Lilin tertiup membatik kainmu mengkerlap,
sapu Lidi mengikat janji waktu,
persembahan menggema lengkungan telingamu,
hujan bibirku menari tiada kelu,



boemi
ladamu:
1988



.

Monday, 15 March 2010

jejak kambium menikam hujan klorofil




ukiran mata menyeringai menyapu,
tanganmu menambat cagak waktu
menjuntai gema menggaris
lantunanmu membingkai perjalanan
mengoyak antara selat menikam
pohon pohon menjari waktu

selatmu membentang lintasan
jemariku menyatu kelopak kamboja
menghujam telinga hiasan waktu
mencumbu dilengkungan bantenmu
menjajar terkatup telapak tanganmu
serpihan debu perlahan menepis
pergulatan kian mendetak gema
cakrawala adalah ayah dan ibu

hamparan pasir purba menetas tawa kita
menyingkap perlahan tabir mayang rambutmu
tebing karang merelif lubang symponi
hantarkan nuansa siang menenun malam
memanggil jiwa jiwa yang tenang
bernyayi dalam bintang gemerlapan
sudut matamu mengejap perlahan
lembayung menyatu bongkahan menyuluti
tintaku semakin mencoreng kertasmu
bermakna satu persatu

perkasamu merentang taji
membelah letupan langit
tersengal peradaban leluhur
persembahan diatas kepala lilitan
saat menerjang menang tiada kalah
kebumi darah menetas pasrah
sekelebat tahta agung para dewa
kesuburan kian membentang

bagianmu mengkotak nuansa warna
disudutku menggantung putih
disudutmu menyulam hitam
marilah mengkotal dalam kotak
bagian terkotak kotak

saat lingkaran putih diselimuti hitam
saat hitam melingkari selimut putih
saat menikam panas matahari
saat meredup cahaya rembulan
saat menyatu sejuk tanah bumi


relung:
hitamku menyatu putihmu
putihku menyatu hitammu
2000-2010


.