Thursday, 8 April 2010

kitab purba *




bagian satu
memanjat sulur sulurmu
mengekor kuda rambut ikal mayang
lantunan riakan mengguncang
bayang bayang purba selaksa,

cadikmu mengalun menyatu ombak
terkesiap makna tanya mengapa

menyeru alis matamu melengkung
indah keterkejutan membahana
semu pipi merekahmu,


mengusik mimpi indah awal malam ini
menuju pertengahan malam,
tonggak terpancang aliran
asal muasalmu adalah bagian kesejukan
membentang kenyamanan ungkapku,

penyapaan terindah malam
sebuah perjalanan kemarin
kekuatan dalam arti,

bagian dua
sayup termaktub dalam rongga suasana
mengahantar alunan secangkir kopi
persembahanku
menyeretmu menuju balkon menatap
aroma kesejukan tergantikan kesahmu
mengeram butiran demi butiran
meleleh dahimu lengkungan bibir indahmu,

detak jantung tertikam dahaga
kureguk cawan keindahan masa
mengundang masa daratan hilang
seketika berhamburan tawamu
membahana menghiasi setiap telung demi relung
kian menggetarkan sukmaku,

aku memohon kepadamu untuk yang kesekian kali
lebih mengagumi dirimu dalam suka dan duka,

bagian tiga
ketahuilah tanah tanah telah menjadi lembab
siraman hujan warna tertuang desah di gambarmu
mengalu dari waktu menuju waktu,

kembali pintu engkau buka lebih lebar
Luas menyeruak ujung ujung buhul
melingkari perjalanan maknamu terkasih,

dalam hitam kebanggaanmu tertepis
kekuatan merah memuja hitam kian membentang
mendasari dirimu,

bagian empat
saat engkau tawarkan kata menghujat lukisanmu,
saat terpesona keindahan mencengang,
permata berserakan dimasa lalu
menyatu pohon pohon perjuangan
memakai lapisan hitam diselimuti kelabu
penuh kekuatan dalam barisan
menjajar kekuatan tercundangi
menurun jejak meninggi,

menggali tambang intan berlian milikmu,
tiada dilukiskan makna perjalananmu,
maka semakin lidahku berputar
searah jarum jam menari gemulai
di celah cerukmu yang mengganga
menyentuh desahku kian membahana,

bagaian lima
kelembutan melangkahi waktu
mencoret lembaranmu
di katulistiwa bercakrawa makna kenikmatan,
angin terus menerjang dadaku perlahan
kesejukan menimang tembang menarikan lingkaran
tanganku menarik kesimpulan dan menurunkannya
kelembutan di awal bundaran kecil milikmu
selanjutnya matamu perlahan terpejam,
sebuah pendakian di bukit menyenangkan,
mataku tiada berhenti berkumandang
mendecak kekaguman menatatap seluruh bentuk menawan
dalam dahaga kuhirup aroma bernuansa surga
menyatu buah terlarang Tuhan,
biarlah aku menikammu reinkarnasi adam
terbawa arus hawa yang mempesona,

bagian enam
seperti matahari menjejakkan sinar hangatnya
perlahan kemudian semakin panas membakar
seluruh sendi sendimu kemudian lunglai
membentang lautan sepi memutih
dirongga alam bawah sadarmu,

kemudian aku mengejarmu
dengan kekuatan makna dalam detak nafasku
disapu hujan kasih bersama ledakan gunung berapi
terselimuti lahar lahar panas menetesi
aliran sungai dibagian pori pori tebing beralur lembut,
maka basahlah rerumputan liar milikmu
menyungging senyuman bercadik mengatup
sudutmu penuh kesuburan,

sebuah dinding penuh tatapan memutih terpateri putih
memanjang perlahan-lahan menggeliat
dibelai cumbuan nafasku meremang kudukmu,
perlahan menatap berkumandangan desah
alam berkuasa membuatnya menikmati
sampai lintasan terakhir atas nama keindahan
kasih yang telah diterima,

bagian tujuh
dentang waktu telah terbunuh lama
dalam pergulatan di meja
menghidangkan kenikmatan penuh kesucian
terdalam makna tiada berpaling
kupeluk penuh kekuatan
bersama tangan Tuhan menyatu telaga indah
membentang matamu mendesir detak mendetak,
berlompatan disambut helai demi helai butiran
lahar terkirimkan dialiran jam pasir
meredup perlahan,

bagian delapan
lengkungan punggungmu dalam telapak tanganmu
mengelus kasih,
semakin detak itu menyatu sukma kita
dibentangan zaman,
nafasmu melemah menuai relung
mimpi perlahan,
sementara aku terus memutar lidahku
mencicipi simponi selamat malam
persembahan dihamparan altarmu dan sejadahku
menyatu dalam padu,
biarkan perahuku mengakhiri pelayaran
penuh perjalanan dan kandas
di pantai indah hatimu.*




*seperti membuka kitab purba
milikmu dipelataran hatiku
prabandari: menyentuhmu dalam selimuti
delapan:empat:dua nolsatu nol



.

No comments:

Post a Comment