Monday, 27 September 2010

S A N G




s a n g
s a n g

wajah membeku kaku
untaian pagi membesi
detak merengkuh pasti
rasa dalam asa
langkah menetak akhir

melintasi tubuh tubuh kaku
mengental tiada menetak makna
menikmati saat ku
membentang nyata benderang
hutan memuja lautan
mengental butiran berpasir
rasa menyetubuhi asa
mengutip langit berlumuran bumi
halilintar menghantar hujan
dikuala kuhabiskan nafas
lautan sambut detak nadi
dipalungmu kuhembuskan cinta

menatapmu dalam bayangan
menuai keyakinan bait kitab
timur semesta merenda kasih
lewat cahaya menerpa keunguan
tatapan mata mencerna tertunduk
wajah sang membayang semu
seberkas lukisan kian mengharu
mulutmu membias remang senja
puncak tanggamus masih berkabut
langkahmu membelah hujan
menikam punggung beraroma beban
mencumbu mimpi demi mimpi



gistvilllage,
1989

.

No comments:

Post a Comment