saat menatap penjuru bumi,
menikammu dalam benak ruang jiwa,
Bagaimana engkau menemukanku trumbu??
Padahal bumi sedang bersulang
merayakan diriku yang menghilang
sayang, karena dirimu telah kusiapkan tempat yang khusus
dipalung hatiku yang terdalam,
sehingga dalam gelap sekalipun aku akan menemukanmu selalu...
biarkan bumi bersulang untuk kejadian itu;
tetapi langit menempis badai dengan hentakan sang bayu ...
Saat langit terdiam setelah menyapamu....
Aku terduduk kaku tak karuan..
Tunjukkan dirimu dihadapan hasrat yang makin tinggi menjulang ini...
Hingga wajahmu dapat kurasai dalam mimpi panjang tak berkelok..
Selamat malam....
kuucapkan selamat malam
karena kutulis pesan ini saat malam makin larut....
Tak juga kutemui tiga kata berangkai sendu darimu.....
Kuharap tak lelah tubuhmu menyambut hari,
mengirim rangkai kata bertubi untukku...
Tak dapat kulampaui rasaku tuk gumamkan deret sendu mendayu.....
Kumohon,
dekap aku selalu dengan bait nadi
yang tuangkn dalam hitam pena meranamu....
Orang yang selalu menyuguhkan segelas kopi
untukmu dalam lembaran sajak..
seperti sejukmu memburu waktu malam
Hening malam kian kelam,
membalut angan berjuta makna. ..
biarkan aku menyatu dalam kalbumu...
embun masih yang melekat pada daun
mulai mengering dengan lamban laun
oleh ufuk timur nan mulai keemasan
pun merusak suasana pelukan rindu
yang belum puas terpadu
layaknya daku yang mennganggu tidur
membangunkanmu dari kehangatan selimut jiwa
hamya ingin bertanya ... indahkah impianmu
dan ceriakah engkau diminggu pasti tak kelabu
harapanku
Kelabu senja menghantar kembali menelusuri tapak kemarin
sembari di temanin rintik air yang mengoda manis.
Mentari mesih berselimut kabut hangat
mengganti dengan selimut jiwa dan Mata
kau bagai tiang yang kokoh ternyata rapuh.......
kau bagai besi yang kuat ternyata berkarat.................
setiap perkataan/ucapanmu adalah guru......
semua hanya bagai tulisan dipasir putih tersapu ombak......
dan menghilang.................!!!
****
No comments:
Post a Comment