para ritme masih berkumandang
altar dan sejadah tertikam hujan
bernyanyi pohon tentang hujan
cerita purba tiada akhirnya,
biarkan bumi terus mereguk nikmat
di cawan dahaga persembahan bantenmu,
menyeru sang jejak kerap menjejak,
malam tiada kuasa menentang pagi
hantarkan tikaman sang cahaya,
sebuah tanya untukmu
di Lingkaran bibir cangkir kopi
kian tandus nafas mengering
sementara hujan belum berhenti,
biarkan kanvasmu mengerling
terhujani cat bermiyak
menyatu kuas sang Matteo,
siraman tajam Lidah menembus purbamu
menepis dosa sang pendosa,
mengukirmu peti mengusung duniamu,
sementara baqaku tersimpan
menceruk jantungmu,
sudah berakhir Lukisan ini
persimpangan jalan tiada bertuan,
bolehkah aku mengangkat cangkir kopiku
dalam noktah hampir membeku ????
No comments:
Post a Comment