
: sebutir aroma bambu
menitis bidadari perjalanan purba
diperaduan panjang,
Lengkungan ufuk timur
mencumbu cadikmu membahana,
hujan kemarin menguntai malam
dipelukan dini hari,
menetak kerinduan bertahun lukisan mata,
nafasmu lembut menyapu getaran
pohon dahan menjulang ranting,
seutas maknamu belahan rembulan
menggenapkan para dedaunan
tetesan embun
bersimponi merah burgundi
bertaburan gemintang semalam,
angin dingin mencumbu
subuhmu musim gugur,
getaran satinmu melukis pesona
jemari belantara sukma,
desah tirtamu melingkari
tatahan singgasana sempurna,
dentingan gamelan
dilingkaran lenganmu
menggema anak panah,
serpihan cabang melilit ranting
penuh kekuatan membirukan,
mentari memintal siang
dipelukan sendratari rinai hujan,
desah lintasan membening
sudut danau mata hatimu
lukisan cakrawala berdaun
tarian angin menggema,
lingkaranmu danaumu dipelukan
bermakna belukar,
aroma pohon bambu
menggenapkan desah tanah membasah,
puncak halimun bergegas pulang
mencumbu matahari membaca kitab,
dijantungmu tergantung salib
kerinduan lautan lepas,
musim angin barat melempar sauh
mimpi tertanak kukusan purba,
sapuan membumi lirih
tenggelam dipelupuk mata,
irama gelombang
mencium ujung dedaunan,
tarian angin
menggenapkan tabuhan sang bayu,
rembulan merindukan cahaya matahari
semalam tersucikan,
sepanjang altar melingkari
deretan bangku persembahan,
jemarimu menatah sinar
dilintasan lilin membahana,
desahmu gemerisik aroma bambu
menggema tungku jiwa,
diperbatasan cakrawala
melukismu berlabirin makna
lingkaranmu menggenapkan
titik cahaya tiga laksana,
menguntai titik lautan
membentang luas angkasa,
pelukan belantara bersanding
hamparan savana bermakna,
ketika tonggak usang
menetak perjalanan bertingkat dua,
serpihan mutiara menggenapkan lukisan
dikelokan tujuh bermuara
tatahan satinmu
mencandi cakrawala
jingga nan menjingga,
berpita hitam memutihkan
perjalanan antahberantah,
ujung jemariku menggenggam
empat penjuru anginmu menggema,
melukis parasmu
bertatah pelangi berwarna tanah,
menjelma tungkaimu bersejajar
langkah jantung kian mendetak
:01
.
No comments:
Post a Comment