Saturday, 1 October 2011

*30

menjelang senja diperbatasan deru
menuai garis memutihkan,
baitmu menggema menikahi malam dipenggalang,
kosaku berdetak meriak gelombang kasih
titisan lautan pilihanmu,
lukisan belantara berwarna makna merenda palungku,
lengkungan parasku menatah lengkungan maknamu,
bersemayam Lukisan titian direlung gelora mayangmu

tertatah perjajanjian makna usang
melengkapi langkah peraduan jingga,
berbaris pohon pohon menggema taburan
gemintang mencumbu satu awanmu,
tertatah dua sisi kaki melengkung
silang ranting ranting kian meranggas,
memujamu tiada terhenti selama berlama
menuju jalan pulang bergema sembilan,
cadikmu menikam lonceng delapan
menggenapkan mimpi kita

sinar matahari mengalir menuai jiwa lemah
titisan kelembutan rembulan,
tanah bertatah rekahan penghujung
tatapan mewarisi bumi,
alam berbisik lewat angin malam,
merembak keabadian kekuatan cinta dilautanmu,
perjalanan tercipta jejak kekuatan dilayarmu

aliran darah ruh lautanmu menggenapkan deburan ombak,
penggalang tersalib tiang layar bertebing makna,
tanganku memilih jala meremah takdir kepakan camar,
tempayanmu mengisi air kehidupan jiwa bermuara cakrawala,
jenjangmu bersolek sisi dinding mencadik,
langit biru bermimpi di hamparan lautan membiru,

rembulan setengah tiang tenggelam
didasar dermaga simponimu semalam,
sebongkah arusmu menderas dibawah
kesunyian cahaya Langit serenade
seperti bisikanmu malam hari tiada pudar,,
menatah sederet tulisanmu mengukir jantungku

bayangan kidungmu menjelajah tebing karang
menulis tinta membisu angin malam
satu ujung bertonggak tiang kesempurnaan
tertawarkan jeritan anak serigala,
sentuhan tarian perdamaian menjelma subuh,
sementara mantra melantun sukma
warna kehidupan bersinar pelangi jiwa,
tetesan harmoni bersimponi sepapa kiriku
memeluk sepapa kananmu,,
lantunan gelombang lautanmu tiada terbatas








:09




.

No comments:

Post a Comment